Senin, 12 Februari 2018

Objek Wisata Taman Sari

Keindahan masa lampau seringkali menarik perhatian banyak orang untuk datang berkunjung ke suatu tempat. Keindahan itu juga dimiliki oleh tempat Wisata Taman Sari (yang berarti “taman yang indah”) yang berada di lingkungan Kraton Yogyakarta. Pada masa lampau ketika Sultan Yogyakarta memerintah kerajaannya, tempat ini adalah sebuah tempat rekreasi dan kolam pemandian atau disebut pula pesanggrahan bagi Sultan Yogyakarta beserta dengan seluruh kerabat istana.

Taman Sari terletak tidak jauh dari kompleks Kraton Yogyakarta yang juga dapat ditempuh dengan berjalan kaki, walaupun kondisi dari Taman Sari itu cukup memprihatinkan sebagai salah satu situs peninggalan sejarah yang tak ternilai harganya namun tempat tersebut masih banyak dikunjungi wisatawan domestik maupun manca negara.

Tempat ini sesungguhnya merupakan bagian dari keraton, terletak di sebelah barat keraton, yaitu sebagai tempat peristirahatan bagi raja dan keluarganya pada generasi yang lalu. Dikenal juga dengan Water Castle atau istana air karena dahulunya, bangunan ini dikelilingi oleh air/danau. Tahun pembuatan taman ini seperti yang dilambangkan oleh empat ekor naga yang saling berhadapan dalam chandrasengkala berbunyi Catur (4) Naga(8) Rasa(6) Tunggal(1) yang berarti 1684 tahun Saka yaitu sekitar tahun 1751 Masehi. Dalam kompleks ini terdapat Umbul atau kolam mandi, Pasarean atau tempat istirahat dan bangunan lain yang menarik dan mengagumkan seperti Sumur Gumuling (tempat sholat berbentuk melingkar yang mempunyai sumur ditengahnya untuk wudhlu dengan air yang berputar) dan konon dari tempat ini terdapat terowongan bawah tanah yang berhubungan dengan Keraton dan Pantai Parangtritis, Sumur Gumantung (sumur yang menggantung ditengah danau), Pulo Kenongo atau Pulo Cemethi (bangunan tinggi di tengah danau untuk menikmati pemandangan danau dan sekitarnya) dan lainnya. Dari Taman Sari menuju Pulo Cemethi harus melalui Urung-urung (terowongan) yang dahulunya terletak di bawah danau. Saat ini di sekeliling bangunan tersebut telah banyak dibangun pemukiman penduduk, ini berkat kemurahan hati Sultan Hamengkubuwono VIII untuk mempersilakan para Abdi Dalem (pegawai Keraton) membangun hunian di tanahnya, karena beliau beranggapan bumi dan langit adalah milik Allah siapapun berhak memakai asalkan dengan niat kebajikan.

Arsitektur dan relief dalam komplek Taman Sari adalah perpaduan antara gaya arsitektur Hindu, Budha, Cina dan Islam dan Eropa. Bangunan yang ada memiliki nama masing-masing sesuai dengan fungsi atau kegunaan dari bangunan itu saat yang lalu. Gapura Agung adalah pintu masuk menuju komplek Taman Sari yang dilengkapi dengan adanya 4 gedung kembar yang berfungsi sebagai pos penjagaan dan disebut pecaosan serta ada tempat ganti pakaian abdi dalem yang sehabis menjalankan tugas penjagaan yang disebut paseban. Selain gapura Agung juga ada gapura Panggung, yang berdekatan dengan kolam pemandian. Kolam pemandian terletak di sebelah selatan masjid membujur dari Utara ke Selatan terdiri dari kolam pemandian yang disebut Umbul Kawitan, Umbul Pamuncar, Umbul Panguras. Umbul Panguras adalah kolam pemandian khusus bagi Sri Sultan, sedangkan Umbul Pamuncar adalah kolam pemandian yang disediakan bagi permaisuri kemudian untuk putra dan putri raja adalah Umbul Kawitan. Bangunan yang lain ada gedung Cemeti, Sumur Gumuling, taman Ledoksari yang adalah tempat peraduan dan tempat yang sangat pribadi bagi raja. Ada pula terowongan yang ujungnya tembus pantai selatan yang disebut Parangkusuma yang berfungsi sebagai sarana persiapan penyelamatan jika terjadi peperangan. Selain ituada bangunan yang sebuah tempat tinggal raja yang didalamnya terdapat gerbang, gardu jaga prajurit, ruang tamu, kamar tidur, ruangan membatik, ruangan untuk pementasan tari Bedoyo dan Srimpi, dan atapnya dapat untuk menikmati pemandangan kota dan sekitarnya. Kraton Pulau Kenangan. Kraton ini pernah ditinggali Sultan Hamengku Buwono I sampai dengan Sultan Hamengku Buwono III. Selain itu ada bangunan yang dinamakan pulau Panembung, taman Segaran yang juga ada dalam komplekhttp://www.freshwell.com/gbr.php?gbr=g203 Taman Sari. Sebenarnya Pangeran Mangkubumi banyak membangun pesanggarahan selain Taman Sari yaitu Panggung Krapyak, Toya Tumumpang di Kasihan Bantul, Sono Pakis, Warung Boto, Rejowinangun di Yogyakarta namun saat ini bangunanya tidak ada lagi, hanya tinggal Taman Sari.

Begitu menawannya Taman Sari, sehingga Sri Sultan lebih sering berada di taman tersebut dari pada berada di keraton. Bahkan, biasanya Sri Sultan tinggal di Taman Sari antara dua sampai tiga bulan lamanya. Sementara tinggal di keraton hanya satu bulan, untuk kemudian kembali ke Taman Sari. Oleh karenanya, Taman Sari pun seringkali berfungsi pula sebagai tempat pemerintahan (ini yang membuat taman sari dikenal pula dengan sebutan Water Kasteel atau Istana Air). Jadi, hampir segala kegiatan ada dalam taman tersebut dari memasak, membuat senjata, tari-tarian, membatik, penyelenggaraan negara, hingga tempat raja bersenang-senang dengan para istri maupun selirnya.

Taman merupakan salah satu ungkapan ibadah kepada Tuhan. Taman merupakan cerminan kosmos, sarat dengan aspek kehidupan manusia dikaitkan dengan kebesaran Tuhan. Di Taman Sari, ungkapan ibadah selain dicerminkan dengan berbagai simbol yang memiliki makna sangkan paraning dumadi (asal dari segala yang ada), ditunjukkan pula dengan dirancangnya fasilitas ibadah yang sangat spesifik yaitu masjid berbentuk lorong melingkar susun dua, satu lantai berada di bawah permukaan air, dan satu lantai lagi di atas permukaan air. Karenanya, Taman Sari yang mengandung simbol-simbol transformasi fisik tersebut disebut juga Taman Islam atau Taman Surga. Namun demikian, bangunan ini juga merupakan manifestasi dari kemampuan kultur Jawa momot, menampung berbagai kebudayaan yang masuk serta memaknainya kembali. Lima tangga di tengah masjid melambangkan lima sholat dalam satu hari. Namun, susunannya yang empat tangga di bawah dan menyatu di tengah membentuk piramida, serta satu tangga menghubungkan puncak piramida dengan lantai mesjid bagian atas, bisa pula diartikan sebagai konsep spiritual Jawa sedulur papat siji pancer.

Hal demikian juga bisa ditemui dalam berbagai bangunan dalam Taman Sari, baik secara sendiri-sendiri maupun sebagai satu kesatuan. Misalnya saja, di Taman Sari terdapat masjid, tetapi di situ juga terdapat sumur gumuling yang merupakan tempat Sri Sultan bersemedi dalam tata cara Kejawen. Atau lebih jauh lagi, sumur gumuling tersebut diyakini juga sebagai tempat pertemuan Sri Sultan dengan Ratu Laut Selatan secara magis. Dengan demikian, bangunan ini juga memperlihatkan kemampuan kultur Jawa menyerap apa saja ke dalam dirinya dan menggabungkannya, yaitu antara kultur Islam dengan kultur Jawa yang diwarnai kultur Hindu dan Buddha yang telah lebih dulu hadir.

Taman Sari memiliki hampir segala fungsi kehidupan bahkan pemerintahan. Selain tempat rekreasi, Taman Sari juga berfungsi sebagai tempat tetirah di mana raja menenangkan pikiran, berdoa, dan bersemadi. Taman ini juga merupakan tempat pertahanan, bahkan tempat penyelenggaraan pemerintahan. Oleh karena itu, hirarki masyarakat justru sangat menonjol pada pola penataan Taman Sari, terutama terlihat adanya garis-garis geometri dengan sumbu-sumbu yang sangat kuat. Juga jalan-jalan, atau jalur sirkulasi yang membentang dari utara ke selatan dan dari timur ke barat.

Dalam hal ini, konsep Taman Sari sangat bertolak belakang dengan konsep taman Cina, meskipun terlihat kesamaan dalam simbolisme pemilihan elemen ruang seperti pemilihan tanaman yang selalu mengandung arti simbolik. Konsep taman Cina memiliki perbedaan yang sangat mencolok dengan konsep bangunan atau kota. Perencanaan bangunan atau kota sangat menonjolkan hirarki ruang yang mencerminkan kekuasaan, sedangkan perencanaan tamannya selalu diarahkan untuk menciptakan lansekap natural seperti yang tercermin dalam lingkungan alam Cina.

Taman Sari memang dibangun sebagai tempat raja bersenang-senang menghibur hati bersama permasisuri, para istri maupun selir, serta anak-anak dan anggota keluarga lainnya. Akan tetapi, Taman Sari juga dibangun seusai perang Giyanti atas prakarsa Sri Sultan HB I yang juga seorang panglima perang. Maka, tidak kalah penting adalah fungsi Taman Sari sebagai tempat pertahanan, lengkap dengan lorong rahasianya. Sebagai ksatria Sultan tidak boleh lengah sekalipun tengah bersenang-senang bahkan bisa langsung memberikan serangan balik yang mematikan. Hal itu sesuai dengan ungkapan berbahasa Jawa sajroning among suka, tan tinggal duga prayoga, saat bersuka ria tidak pernah lengah akan datangnya mara bahaya. Konsep itu terwujud dalam konstruksi Taman Sari, di mana jika sewaktu-waktu diserang musuh, air akan bisa segera dimasukkan dan menenggelamkan seluruh taman. Sementara itu, raja telah menyelamatkan diri melalui lorong rahasia.

Taman Sari yang pembangunannya memakan waktu tujuh tahun (1758-1765 M) tersebut hanya dapat dipergunakan sampai masa pemerintahan Sri Sultan HB III. Taman yang indah ini hancur oleh letusan Gunung Merapi pada tahun 1812. Konstruksi Taman Sari yang sama sekali tanpa tulangan baja, hanya tatanan batu bata dengan perekat saja, membuatnya tidak tahan terhadap guncangan gempa besar akibat letusan Gunung Merapi itu. Setelah kerusakan tersebut, Taman Sari baru bisa dibersihkan 13 tahun kemudian. Sejak tahun 1830, taman tersebut mulai dihuni penduduk sekitar. Saat ini, lokasi Taman Sari telah dipadati rumah-rumah penduduk.


Kelebihan

Tempat ini memiliki bangunan-bangunan yang menarik seperti yang disebutkan diatas. Dari tempat ini, wisatawan juga dapat melihat pemandangan sekitar melalui bangunan Pulo Cemethi yaitu bangunan tinggi di tengah danau untuk menikmati pemandangan danau dan sekitarnya. Taman Sari memiliki aura kota Yogyakarta yang lama sehingga ketika berada didalamnya, wisatawan akan merasakan kehadiran nuansa Yogyakarta yang disuguhkan melalui bangunan-bangunan kuno di dalamnya. Belum lagi nilai-nilai filosofis yang ada dari Taman Sari yang membuat banyak orang semakin memahami makna hidup. Selain itu, seperti halnya kota Yogyakarta yang seringkali memberi inspirasi bagi banyak orang, Taman Sari pun mampu menjadi sumber inspirasi seperti yang pernah dituliskan dalam lirik lagu Katon Bagaskara, yang berjudul “Jogja cinta terakhir”. Sehingga Taman Sari patut untuk dijadikan tempat berkunjung untuk menghilangkan penat.


Kelemahan

Keberadaan Taman Sari perawatannya oleh pemerintah kurang intensif, padahal ini merupakan harta karun bagi negara kita, khususnya Yogyakarta. Selain itu pengamanannya juga sangat kurang, misalnya banyak tangan-tangan iseng yang kerap kali menuliskan “prasasti” di tembok-tembok bangunan Taman Sari dan membuang sampah seenaknya yang jelas-jelas mengotori bangunan bersejarah itu.

Peluang

Peluang lain dari Taman Sari adalah bangunan ini selain bisa dijadikan sebagai tempat wisata bersejarah. Tempat itu juga bisa dijadikan sebagai salah satu bagian dari wisata kraton atau wisata budaya mengingat muatan nilai dan filosofisnya yang sangat dalam. Selain itu tempat ini juga bisa dijadikan sebagai obyek penelitian akademis dilihat dari banyak sudut (seperti sejarah, kebudayaan dan pariwisata) sebagai contoh penelitian tentang pembangunan tempat ini yang menurut beberapa versi juga dibangun oleh bantuan orang portugis. Serta berpeluang untuk dijadikan tempat pergelaran karya seni dan tempat pembuatan video klip.

Ancaman

Bangunan-bangunan dalam Taman Sari jika tidak diberi perawatan secara intensif maka akan mengalami kehancuran. Komplek Taman Sari sebenarnya menempati lokasi seluas lebih dari 11 ha, namun saat ini terlihat ketidakjelasan mana sebenarnya komplek Taman Sari sesungguhnya karena adanya lebih dari ratusan bangunan rumah penduduk yang menyatu dengan bangunan-bangunan Taman Sari, dan anehnya tanah diatas bangunan penduduk itu sudah bersertifikat resmi dari badan pertanahan setempat, padahal banyak pihak dan fakta menunjukkan bahwa tanah dikomplek Taman Sari adalah milik Kraton Yogyakarta. Kemungkinan hal ini lama-kelamaan akan membuat keberadaa Taman Sari terancam karena bisa saja terkikis oleh banyaknya tempat pemukiman disekitarnya.

0 komentar:

Posting Komentar